Tujuan & Sasaran Inovasi
memudahkan para siswa untuk mengerjakan soal, dengan menggunakan aplikasi ujian di smartphone para siswa juga tidak bisa melakukan kecurangan, selain soal-soal yang diacak, para siswa juga tidak bisa membuka aplikasi pencarian google
Manfaat Inovasi
Bisa meminimalisasi sesi ujian. Termasuk solusi bagi sekolah yang kekurangan komputer, bisa diakali begini. Terutama yang swasta.
Deskripsi Inovasi
Model Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) sepertinya bakal mengalami pergeseran. Tahun ini, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur berencana melakukan uji coba penggunaan Android untuk mengerjakan soal. Selain dianggap lebih efisien, kemungkinan adanya kebocoran soal juga sudah diantisipasi.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Provinsi Jawa Timur Dr Saiful Rachman. "Opsi mengerjakan USBN bisa tak perlu komputer. Bisa dari handphone saja lebih baik," ujar Saiful saat dihubungi kemarin (13/1). Mantan kepala SMAN 4 Kota Malang ini menyatakan, opsi USBN memanfaatkan Android dengan pertimbangan efisiensi. "Siswa juga lebih bisa mengerjakan soal dalam waktu singkat," kata dia.
Selain itu, USBN berbasis Android bisa meminimalisasi sesi ujian. "Termasuk solusi bagi sekolah yang kekurangan komputer, bisa diakali begini. Terutama yang swasta ya," ujar dia.
Sementara itu, dalam ujian berbasis Android ini, siswa bisa mengunduh aplikasinya melalui Play Store. "Aplikasi tersebut didesain sedemikian rupa sehingga tidak memungkinkan pengguna membuka aplikasi lain dalam waktu bersamaan," kata dia.
Jadi, tidak ada kekhawatiran kebocoran soal. "Sistemnya mengunci, tidak bisa buka aplikasi lain dalam waktu yang sama. Hacker juga sudah diantisipasi. Kalau keluar aplikasi ujian, ya dianggap selesai," tambah Saiful. Itu pun, bisa anti-screenshoot lewat handphone.
Menurut dia, mekanisme USBN smartphone tidak berbeda dengan USBN berbasis komputer yang sudah diterapkan selama dua tahun terakhir. Nantinya, ada login dan password yang dibagikan ketika hendak ujian. "Sementara, USBN menggunakan Android ini baru disosialisasikan di SMA. SMK-nya nyusul," singkat dia.
Menurut dia, ujian SMA hanya berfokus pada USBN saja. Sementara, SMK harus melalui dua ujian. Pertama USBN, kedua ujian keterampilan. "Fokus SMA lebih minim. Hanya satu ujian. Lebih bisa dievaluasi penggunaan Android-nya," jelas dia.
Sementara itu, Kepala Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Tri Suharno menyatakan, belum ada rencana SMA di Kota Malang untuk ujian berbasis Android. "Aduh, pakai komputer dulu saja kok," kata dia. Dia pun belum menerima sosialisasi mengenai ujian berbasis Android tersebut.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Provinsi Jawa Timur Dr Saiful Rachman. "Opsi mengerjakan USBN bisa tak perlu komputer. Bisa dari handphone saja lebih baik," ujar Saiful saat dihubungi kemarin (13/1). Mantan kepala SMAN 4 Kota Malang ini menyatakan, opsi USBN memanfaatkan Android dengan pertimbangan efisiensi. "Siswa juga lebih bisa mengerjakan soal dalam waktu singkat," kata dia.
Selain itu, USBN berbasis Android bisa meminimalisasi sesi ujian. "Termasuk solusi bagi sekolah yang kekurangan komputer, bisa diakali begini. Terutama yang swasta ya," ujar dia.
Sementara itu, dalam ujian berbasis Android ini, siswa bisa mengunduh aplikasinya melalui Play Store. "Aplikasi tersebut didesain sedemikian rupa sehingga tidak memungkinkan pengguna membuka aplikasi lain dalam waktu bersamaan," kata dia.
Jadi, tidak ada kekhawatiran kebocoran soal. "Sistemnya mengunci, tidak bisa buka aplikasi lain dalam waktu yang sama. Hacker juga sudah diantisipasi. Kalau keluar aplikasi ujian, ya dianggap selesai," tambah Saiful. Itu pun, bisa anti-screenshoot lewat handphone.
Menurut dia, mekanisme USBN smartphone tidak berbeda dengan USBN berbasis komputer yang sudah diterapkan selama dua tahun terakhir. Nantinya, ada login dan password yang dibagikan ketika hendak ujian. "Sementara, USBN menggunakan Android ini baru disosialisasikan di SMA. SMK-nya nyusul," singkat dia.
Menurut dia, ujian SMA hanya berfokus pada USBN saja. Sementara, SMK harus melalui dua ujian. Pertama USBN, kedua ujian keterampilan. "Fokus SMA lebih minim. Hanya satu ujian. Lebih bisa dievaluasi penggunaan Android-nya," jelas dia.
Sementara itu, Kepala Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Tri Suharno menyatakan, belum ada rencana SMA di Kota Malang untuk ujian berbasis Android. "Aduh, pakai komputer dulu saja kok," kata dia. Dia pun belum menerima sosialisasi mengenai ujian berbasis Android tersebut.