Tujuan & Sasaran Inovasi
Melaksanakan Kurikulum K13 pada Program Keahlian Multimedia mata pelajaran Desain Percetakan dengan menyelaraskan kebutuhan industry terhadap tenaga yang kompeten dan dapat diserap langsung oleh Dunia Usaha dan Dunia Industri.
Manfaat Inovasi
a) Menumbuhkan kreativitas siswa dalam menghasilkan produk maupun layanan jasa sesuai dengan kompetensi multimediarnb) Membekali siswa dengan keterampilan sesuai kebutuhan dunia kerjarnc) Membekali lulusan agar siap kerja dan menjadi pelaku wirausaharnd) Memperluas peluang kerja bagi lulusan didunia industri kreatifrne) Memfasilitasi siswa memulai usaha (star up) secara mandiri atau berkelompok rnf) Menanamkan etos dan budaya kerja DUDI dalam kegiatan produktif di multimedia.rn
Deskripsi Inovasi
Program pembelajaran teaching factory dirancang sedemikian rupa, sehingga mampu digunakan untuk meningkatkan kompetensi siswa sesuai kebutuhan DU/DI. Di luar kegiatan pembelajaran, sekolah akan disibukkan dengan kegiatan siswa dalam proses produksi baik membuat barang dan atau layanan jasa terhadap masyarakat yang merupakan prinsip dasar pembelajaran teaching factory.
Pengelolaan Unit Produksi di sekolah khususnya kompetensi keahlian multimedia melayani beberapa produk, baik barang maupun jasa. Bidang fotografi dan videografi menjadi produk unggulan pada program studi multimedia. Selain itu membuat kemasan produk juga menjadi salah satu pilihan produk yang dikembangkan di jurusan multimedia. Pembuatan kemasan produk akan dikembangkan dalam rangka memperkuat branding produk.
Melalui program Teaching Factory, siswa lulusan multimedia diharapkan memiliki portofolio produk. Portofolio produk yang dibuat disesuaikan standart DU/DI maka para lulusan akan diperhitungkan oleh DU/DI. Saat ini, sekolah kami membutuhkan pembelajaran Teaching Factory untuk meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan siswa. Penerapan pola pembelajaran Teaching Factory merupakan sinkronisasi dunia pendidikan kejuruan dengan dunia industri, sehingga terjadi check and balance terhadap proses pendidikan pada SMK untuk menjaga dan memelihara keselarasan (link and match) dengan kebutuhan pasar kerja.ÂÂÂ
Melalui pembelajaran pola Teaching Factory yang hakekatnya memadukan sistem industri sebagai pendekatan pembelajaran di SMK diharapkan terjadi transfer teknologi dari industri, yang pada gilirannya kualitas guru akan meningkat. Pola pembelajaran Teaching Factory dirancang berbasis produksi barang/jasa dengan mengadopsi dan mengadaptasi standar mutu dan prosedur kerja industri, akan memberi pengalaman pembelajaran kompetensi tambahan terutama soft skill seperti etos kerja disiplin, jujur, bertanggungjawab, kreatif-inovatif, karakter kewirausahaan, bekerjasama, berkompetisi secara cerdas dan sebagainya. Kompetensi tersebut sangat sulit diperoleh melalui pendidikan kejuruan yang diselenggarakan secara konvensional, dimana pembelajaran hanya dilaksanakan pada pencapaian kompetensi keahlian sebagai hard skill.ÂÂÂ
Teaching Factory dianggap sesuai dengan tujuan akhir pembelajaran siswa SMK, mempersiapkan dan membekali siswa dengan kompetensi sotf skill yang tepat guna sesuai standart DU/DI.
Pengelolaan Unit Produksi di sekolah khususnya kompetensi keahlian multimedia melayani beberapa produk, baik barang maupun jasa. Bidang fotografi dan videografi menjadi produk unggulan pada program studi multimedia. Selain itu membuat kemasan produk juga menjadi salah satu pilihan produk yang dikembangkan di jurusan multimedia. Pembuatan kemasan produk akan dikembangkan dalam rangka memperkuat branding produk.
Melalui program Teaching Factory, siswa lulusan multimedia diharapkan memiliki portofolio produk. Portofolio produk yang dibuat disesuaikan standart DU/DI maka para lulusan akan diperhitungkan oleh DU/DI. Saat ini, sekolah kami membutuhkan pembelajaran Teaching Factory untuk meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan siswa. Penerapan pola pembelajaran Teaching Factory merupakan sinkronisasi dunia pendidikan kejuruan dengan dunia industri, sehingga terjadi check and balance terhadap proses pendidikan pada SMK untuk menjaga dan memelihara keselarasan (link and match) dengan kebutuhan pasar kerja.ÂÂÂ
Melalui pembelajaran pola Teaching Factory yang hakekatnya memadukan sistem industri sebagai pendekatan pembelajaran di SMK diharapkan terjadi transfer teknologi dari industri, yang pada gilirannya kualitas guru akan meningkat. Pola pembelajaran Teaching Factory dirancang berbasis produksi barang/jasa dengan mengadopsi dan mengadaptasi standar mutu dan prosedur kerja industri, akan memberi pengalaman pembelajaran kompetensi tambahan terutama soft skill seperti etos kerja disiplin, jujur, bertanggungjawab, kreatif-inovatif, karakter kewirausahaan, bekerjasama, berkompetisi secara cerdas dan sebagainya. Kompetensi tersebut sangat sulit diperoleh melalui pendidikan kejuruan yang diselenggarakan secara konvensional, dimana pembelajaran hanya dilaksanakan pada pencapaian kompetensi keahlian sebagai hard skill.ÂÂÂ
Teaching Factory dianggap sesuai dengan tujuan akhir pembelajaran siswa SMK, mempersiapkan dan membekali siswa dengan kompetensi sotf skill yang tepat guna sesuai standart DU/DI.